Aug 27, 2013
Comments Off

The First Ever! Night Test Drive, A-Class

Mercedes-Benz telah dikenal sebagai kendaraan premium yang andal. Pernyataan tersebut lahir dengan alasan yang tepat bahwa mobil keluaran Jerman ini dibangun dengan teknologi sempurna yang memberikan tingkat kenyamanan dan keselamatan terbaik, termasuk desain interior dan eksterior yang elegan dan menawan.

Kabar gembiranya adalah, Mercedes-Benz mengeluarkan seri terbaru untuk generasi muda dengan harga yang kompetitif. Jika boleh saya katakan, harga yang keren banget untuk kendaraan sekelas Mercedes-Benz.

Ladies and gentlemen, please welcome the pulse of a new generation: The New A-Class!

Seri terbaru dari A-Class yang sporty ini telah berhasil memenangkan hati para kritikus dan pengguna compact car mewah di Eropa. Mercedes-Benz Indonesia akhir Juni lalu meluncurkan A 200 Urban (Rp. 499 juta off the road) dan A 250 Sport (Rp. 629 juta off the road) yang selama ini banyak dipuji berkat penampilan dan performa-nya.

Acara peluncuran The New A-Class dilakukan dengan konsep yang sama sekali baru di pasar otomotif Indonesia, yaitu Night Test Drive. Diadakan di Sentul Circuit International, acara ini mengundang rekan-rekan media, Mercedes-Benz Club Indonesia, dan karyawan Mercedes-Benz. Sesuai dengan konsep adrenaline rush yang menyasar generasi muda, pengalaman mengendarai A-Class di malam hari dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu akselerasi (dimana pengendara dapat melakukan akselerasi dari posisi diam 0 km hingga 100 km dalam waktu kurang dari 8 detik, merasakan braking system, dan parking assist dimana kita bisa parkir mobil secara otomatis tanpa tangan kita harus banyak bergerak memutar-mutar setir.

Acara ini mendapat antusiasme dan respon positif dari para tamu undangan.

“A-Class telah menciptakan standar baru untuk kategori kendaraan compact dengan desain yang stylish dan teknologi yang inovatif,” ungkap Dr. Claus Weidner, President dan CEO Mercedes-Benz Indonesia. “Dengan desain yang revolusioner, kendaraan ini sangat sesuai dengan pribadi dan gaya hidup generasi muda.”

Eksterior dinamis terlihat nyata dari konturnya yang memikat, bagian depan yang ekspresif dengan logo bintang Mercedes-Benz di bagian tengah, lekukan permukaan yang dinamis, garis jendela yang berbentuk seperti coupé, dan bagian belakang yang lebar dengan punggung dan sayap yang kuat dan lebar.

Lampu depan Bi-xenon yang inovatif menawarkan teknologi xenon untuk masing-masing lampu dekat dan jauh. Selain karena tingkat keterangan dan ketahananannya yang baik, lampu Bi-xenon juga menyajikan tampilan yang elegan dan kuat pada mobil di malam hari.

Desain interior untuk kedua model, A 200 Urban dan A 250 Sport memperlihatkan elemen sporty. A 200 Urban dilengkapi dengan bahan kulit  ARTICO buatan tangan, sementara A 250 Sport hadir dengan paket eksklusif AMG dengan bahan kulit hitam dan aksen jahitan berwarna merah.
Mesin dan Performa – Selain desainnya yang menakjubkan, seri A-Class terbaru juga dilengkapi dengan mesin 4-cylinder yang bertenaga dan efisien, dengan level tenaga 115 kW (156 hp) untuk A 200 Urban dan 155 kW (211 hp) untuk A 250 Sport. Dengan performa mesin yang andal, A 200 Urban dapat berakselerasi mulai dari 0 – 100 km/jam dalam waktu 8,3 detik, dengan maksimum kecepatan 224 km/jam. A 250 Sport mampu berakselerasi dari 0 – 100 km/jam hanya dalam waktu 6,6 detik, dengan maksimum kecepatan 240 km/jam.

Kecepatan tinggi ini juga dioptimalkan dengan dual clutch transmission 7G-DCT yang mampu menawarkan kecepatan dan perpindahan kopling yang lebih baik.

Sementara itu, tarikan koefisien untuk A 200 Urban hanya 0.28 cd dan untuk A250 Sport hanya 0.31 cd. Hal ini membantu penghematan konsumsi bahan bakar, sekaligus membuat kendaraan ini menjadi salah satu mobil yang paling aerodinamis di kelasnya.

Ramah lingkungan - A-Class terbaru menawarkan angka emisi rendah, yaitu 127g/km untuk A 200 Urban dan 148g/km untuk A 250 Sport. Dengan standar emisi Euro 6, konsumsi bahan bakar untuk A 200 Urban adalah 5.4 l/100km dan A 250 Sport adalah 6.4 l/100km. Kedua model ini dilengkapi dengan standar fungsi ECO start/stop; yang membuat mobil ini sangat efisien dan ramah lingkungan.

Keamanan & Kenyamanan – Seperti kendaraan Mercedes-Benz lainnya, A 200 Urban dan A 250 Sport menghadirkan sistem keamanan yang inovatif seperti Attention Assist, Adaptive Break Assist, Tire pressure loss warning system, Active Parking Assist termasuk PARKTRONIC dan Rescue Assistance.

A-Class ini juga dirancang khusus untuk melindungi keselamatan penumpang dengan sembilan airbag yang mencakup front airbag, sidebag, windowbag dan kneebag.

Musik dan Memori – Mobil ini menawarkan serangkaian fitur hiburan, seperti Mercedes-Benz radio audio 20 dengan CD changer dan 6 loudspeakers yang khusus dikonfigurasikan untuk interior kendaraan. Seluruh fitur hiburan ini bisa dikendalikan dari setir multifungsi.

Sebagai tambahan, paket memori memungkinkan para pengendara untuk menyesuaikan kursi, penahan kepala, serta kaca luar yang dapat dikembalikan dengan cepat dan akurat demi kenyamanan pengemudi.

Layanan Purna Jual - Tentunya A-Class terbaru, seperti mobil penumpang Mercedes-Benz lainnya, hadir dengan Integrated Service Package, yang menyediakan servis gratis dan perawatan untuk tiga tahun pertama tanpa batas jarak tempuh. Test drive untuk pelanggan tersedia di seluruh dealer resmi Mercedes-Benz.

The pulse of a new generation - “Model A 200 Urban dan A 250 Sporty sukses menggabungkan keindahan, fungsi, dan teknologi dalam satu paket compact car,” ujar Dr. Weidner.

“Dengan memperkenalkan A-Class terbaru, Mercedes-Benz Indonesia menjangkau para generasi muda yang selama ini berada di luar target market kami. Mobil ini mengusir kebosanan saat berkendara di jalan dan inilah yang sesungguhnya ditunggu oleh para generasi muda, the pulse of a new generation,” tutup Dr. Weidner.

Seri A-Class terbaru ini akan tersedia di seluruh dealer resmi Mercedes-Benz mulai 28 Juni 2013. A 200 Urban akan dijual dengan harga Rp 499 juta (off the road) dan A 250 Sport dengan harga Rp 629 juta (off the road).

Tunggu apa lagi, it’s cool!

FacebookTwitterShare
Aug 27, 2013
Comments Off

Di Depan Mata

Di depan mata saya, berdiri seorang ibu muda yang tak yakin usianya berapa. Di depan mata saya, ia berharap anak satu-satunya dapat sekolah suatu saat nanti. Anak perempuan usia 5 tahun yang belum pernah sekolah, belum bisa baca tulis karena sang ibu pun tidak bisa baca tulis. Anak ini tidak memiliki akte kelahiran, sang ibu berpikir usianya 25 tahun saat suaminya yakin istrinya lahir pada tahun 1985. “Jika yakin lahir di tahun 85, berarti umur kamu sekarang 28 tahun, bukan 25.” ujar saya. Ia hanya menatap suaminya, berharap mendapatkan jawaban. Sang suami diam, menatap saya, mengangguk kecil tanda tak pasti.

Berikut percakapan yang membuat hati saya terburai. Namanya Irah. Suaminya Sunar. Anaknya Siti Padilah, panggilan Sipa. Awalnya Irah datang dan bertanya:

“Anak saya mau sekolah di PAUD ibu.”

“Usianya berapa?”

“5 tahun. Sekolah itu sampai kapan ya bu?”

“Saya tidak punya PAUD. Saya kirim buku cerita anak-anak ke berbagai daerah. Saya kasih beberapa ya untuk anak kamu”

“Tapi saya gak bisa baca bu. Sama sekali gak ngerti. Makanya anak saya belum bisa baca. Gak ada yang ngajarin.”

“Kenapa tidak disekolahkan?”

“Makanya saya tanya ibu. Saya masukin ke SD aja ya bu, taon depan, pas 6 tahun.”

“Anak yang masuk SD harus sudah bisa baca, paling tidak sedikit. Usia 5 tahun sudah seharusnya masuk TK, bukan PAUD. PAUD itu untuk anak usia 3-4 tahun. Untuk masuk SD, harus punya Akte Kelahiran. Ada kan?”

“Gak ada bu, dulu dapat surat lahir. Kebawa banjir. Gak tau sekarang kemana.”

“Kamu ada KTP? Sunar ada KTP?”

“Ada”

“Bagus! Sipa dulu lahir di bidan atau RS?”

“RS bu…”

“Bagus! Cepet kesana, minta akte kelahiran atau surat lahir, urus sampai akte kelahiran jadi. Ini buat masa depan anak kamu. Kasihan kalau tidak ada akte. Begitu ada akte, daftar sekolah TK. Dia masih ada kesempatan satu tahun lagi sebelum ke SD. Gaji sekarang berapa?”

“Satu juta bu.”

“OK, satu juta. Kalian bertiga kan kerja jadi PRT, tidak perlu ada biaya makan, semua sudah ditanggung. Tidak perlu pusing dengan kontrak rumah karena tinggal di rumah majikan yang cukup nyaman. Satu juta cukup untuk ditabung sebagian, dan untuk biaya sekolah anak. Urus secepatnya.”

Mereka mengangguk. Saya berjanji pada diri sendiri, bahwa bulan depan, akan mencari mereka, menanyakan perkembangannya. Kedua orang ini sudah tidak bisa diselamatkan, dalam hal merubah nasib. Anak 5 tahun ini, jika dibesarkan dengan tepat, bisa merubah nasibnya dan membantu orang tuanya, Insya Allah.

Berbicara mengenai misi Taman Bacaan Anak Lebah yang berfokus di Indonesia Timur, saya melihat di depan mata, di kota paling maju di Indonesia, masih ada keterbelakangan. Let’s do something for this little innocent girl. Saya yakin masih banyak Sipa-Sipa lain di sekeliling Anda. Look around and please help them.

(*written by Vera Makki – www.veramakki.com )

FacebookTwitterShare
Aug 27, 2013
Comments Off

CSR: Mercedes-Benz Indonesia Tanam 3,000 Pohon di 600 Sekolah

Salah satu tanggung jawab departemen saya di Corporate Communication & Public Affairs (CCP) adalah mengatur strategi dan implemetasi dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau istilah kerennya adalah CSR (Corporate Social Responsibility). Kegiatan sosial selalu menarik bagi saya, it is part of my passion to make Indonesia a better place for most Indonesian people.

Mercedes-Benz Indonesia, perusahaan yang telah berdiri sejak 43 tahun lalu, memiliki program one car = one tree. Program ini telah dijalankan sejak 2011 yang artinya setiap penjualan satu unit kendaraan, maka perusahaan berkomitmen untuk menyumbangkan satu penanaman pohon. Saat saya bergabung pada Agustus 2012, tugas saya adalah menuntaskan penanaman 5552 pohon yang tersisa. Selama ini, pohon ditanam di Banjir Kanal Barat, Banjir Kanal Timur, dan Tol Ir. Sedyatmo.
Strategi pun dirubah, tidak menanam pohon di pinggir jalan raya, namun berfokus pada sekolah. Penanaman pohon tahap pertama dilaksanakan berkolaborasi dengan Mercedes-Benz Club Indonesia (klub pemilik kendaraan Mercedes-Benz) saat acara Jambore Nasional MB Club INA 15-17 November 2012 di Lampung, Sumatera. Penanaman pohon dilaksanakan di SMAN 7 Bandar Lampung sebanyak 2,552 termasuk di taman kota.
Penanaman tahap kedua dilaksanakan di Jakarta, Tangerang, dan Bogor sebanyak 3,000 pohon di 600 sekolah pada pertengah September hingga tuntas dilaksanakan pada bulan ini. Terima kasih kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Tangerang dalam memfasilitasi penanaman pohon ini.
Penanaman pohon mungkin merupakan satu hal biasa yang dilakukan banyak perusahaan. Namun keunikan program ini adalah semangat menggandeng pihak sekolah dengan dua pertimbangan. Pertama, mengajak murid-murid sekolah untuk bersama melakukan aksi tanam pohon Trembesi dan Mahoni (kedua pohon ini yang menyerap paling banyak CO2 dibanding pohon-pohon lainnya). Kedua, memastikan pohon tidak sekedar ditanam, namun tetap terpelihara dengan baik karena dirawat di lingkungan sekolah. Ini merupakan bagian dari program penguatan karakter generasi muda, karena mengajak mereka untuk peduli dan berbuat nyata demi kelestarian lingkungan.
Alhamdulillah, komitmen Mercedes-Benz di tahun 2011 untuk aksi tanam pohon berdasarkan penjualan unit kendaraan di tahun 2011 telah tuntas dilaksanakan. Misi selanjutnya adalah, kegiatan CSR apa lagi yang dapat kami lakukan dan memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan serta masyarakat?
Tunggu berita selanjutnya…
FacebookTwitterShare
May 13, 2012
admin
Comments Off

Pecha Kucha, Pekan Komunikasi Universitas Indonesia: My Web, My Place

Pecha Kucha 8 March 2011, one of my slide about agile working.

Sekitar satu tahun lalu, tepatnya 8 Maret 2011 saya diundang untuk mengisi sesi di acara tahunan Pekan Komunikasi Universitas Indonesia. Yes, it’s been a year and I just got a chance to write the story now.

Sesi Pekan Komunikasi yang saya ikuti berkolaborasi dengan Pecha Kucha, sebuah gerakan internasional yang bermula di Tokyo pada 2003, mengusung konsep presentasi unik 20×20. Artinya, setiap presenter yang mengisi Pecha Kucha, slide dibatasi 20 halaman dan setiap halaman hanya bisa dipaparkan dalam 20 detik. Artinya, 20 slides, 20 detik, total waktu 6.6 menit (www.pechakucha.org). It’s an honour for me to be one of the line up speakers, in an event where @pechakuchaJkt claimed as full of inspiration and ideas.

Tema Pecha Kucha pagi itu pun adalah My Web, My Place. Bagaimana sebagai pekerja humas di Jakarta, saya dapat menyiasati waktu dan tenaga untuk tetap melakukan pekerjaan tanpa harus melulu berjam-jam duduk manis di depan layar komputer. Sebaliknya, bagaimana saya tetap dapat melakukan pekerjaan, menghadiri meeting dan mengasuh dua anak, di saat yang bersamaan target pekerjaan tetap dapat tercapai *dan tambahan lagi buat saya, tetap dapat menjalankan hobi di luar pekerjaan kantor*

Solusinya memang hanya satu: technology. For this, I must thank Internet Connection, WIFI, laptop, smartphones, skype, and any gadgets that connect us to anyone from anywhere at anytime.

Mari berbicara tentang Jakarta yang semrawut macam benang kusut. Lahir dan besar di Jakarta, saya melihat kota ini bergerak mundur terkait transportasi darat. Melejitnya jumlah motor dan mobil tidak berbanding lurus dengan sarana jalan umum dan transportasi publik yang memadai. Puncaknya, perilaku berkendara mulai dari motor butut hingga mobil mewah, masih seringkali menyedihkan. Keruwetannya semakin menjadi dengan pengendara yang masih suka terlihat membuka jendela dan buang sampah sembarangan (bahkan di jalan tol).

Isi slide saya bukan tentang keluhan terhadap tidak kondusifnya jalanan di Jakarta terhadap produktivitas siapapun (bukan hanya pekerja kantoran, tetapi juga termasuk ibu-ibu yang antar jemput anak sekolah). Penekanan saya lebih kepada: bagaimana cara menyiasatinya? Di hadapan sekitar 300 mahasiswa/i komunikasi baik dari Universitas Indonesia maupun universitas lain di luar Jabodetabek, saya memaparkan tentang agile working. Konsep ini diperkenalkan oleh Unilever, my previous employer.

Apabila kita ambil cerita bu Indah dalam satu hari. Ibu beranak tiga ini tinggal di Bekasi, kantor di Sudirman. Setiap hari bangun jam 4 pagi, menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga dan sekolah anak-anaknya, untuk kemudian berangkat naik ojek dari kompleks rumah pukul 7.00 ke terminal bis, berangkat naik bis dan terkena macet di tol Cawang, tiba di kantor pukul 9.00 bahkan terkadang 9.30. Idealnya dengan rutinitas seperti itu, ia bisa tiba di kantor pukul 8.00. Karena tidak ada yang ideal di bentaran aspal Jakarta, maka kendala tak terduga (hingga pada akhirnya terduga) muncul di berbagai kanal perjalanan: dari rumah menuju ke terminal, keterlambatan bis di terminal, kemacetan di Cawang, atau, kalau boleh jujur, kemacetan dari rumah: si anak susah mandi, ternyata PR belum dibuat, si bontot rewel tak mau ditinggal, hingga si bibi mendadak sakit. Pukul 16.00 ia pun harus segera pulang, karena 3 in 1 (sukur-sukur dapat tebengan), bis ke arah Bekasi penuh dan macet, hingga dapat dipastikan ibu sampai rumah pukul 19.00 ke atas. Intinya, setiap hari ibu Indah menghabiskan waktu 4-5 jam di perjalanan.

Jika pekerjaan kantor sedang tidak baik atau baru kena semprot bos atau ada yang mogok di jalan, kekesalannya dapat ditebak, langsung menjalar ke orang rumah. Ibu pulang kantor marah-marah. Atau ibu pulang kantor kerja lagi. Sounds familiar?

Now let’s look from employer’s perspective that SUPPORT agile working. Ternyata beberapa survei membuktikan bahwa penggunaan ruang kantor selama ini kurang maksimal. Sangat jarang yang menggunakan ruang kantor 100%. Rata-rata penggunaan ruang kantor secara utuh hanya 40%, 20% secara temporer tidak terpakai, dan 40% sama sekali kosong. Kekosongan (baik permanen maupun sementara) terjadi antara lain karena posisi masih lowong atau tipe pekerjaan seringkali berada di luar kantor. Lalu, mengapa perusahaan harus membayar sewa gedung atau ruangan yang cukup mahal setiap bulan apabila kegunaannya tidak maksimal? Meeting antar kota atau ke luar negeri pun saat ini dapat disiasati dengan teleconference, telepresence, and virtual team focus. Buat perusahaan, penghematan dapat dilakukan dari segi transportasi darat dan udara, serta dari segi waktu. Dilansir penghematan yang bisa diraih dari satu aktivitas ini bisa mencapai 30%.

Saat ini pun semakin menurun jumlah waktu yang dipergunakan individu di dalam ruangan/kubikelnya. Pekerjaan di masa kini semakin banyak yang mengutamakan teamwork. Artinya, banyak diskusi, banyak meeting. Artinya, banyak melakukan koordinasi pekerjaan di ruang meeting sambil berdiskusi, meninggalkan ruangan/meja masing-masing. Pertanyaannya, apakah masih perlu dedicated working space for each employee?  Mungkin untuk beberapa posisi seperti admin, sekretaris, atau resepsionis ya. Tetapi untuk mereka yang lebih sering berada di lapangan atau meeting dan melakukan perjalanan bisnis, rasanya disediakan public working station juga ok. Hanya bermodalkan kabel Internet, wifi, power outlets, and … voila! Those managers can work. Artinya, dengan agile working atau kerja dari mana saja, perusahaan dapat berhemat dari segi penyewaan ruang kerja (yang dihitung berdasarkan sqm yang berimbas terhadap pembayaran air, listrik, AC, dan service charge).

Saat ini pun banyak meeting yang dilakukan di cafe atau restoran untuk efisiensi waktu (dan seringkali juga karena tidak kebagian ruang meeting). Lagi-lagi akibatnya, ruang kerja ybs menjadi kosong.

Statement ini masih kontroversi, termasuk bagi penghuni sebuah perusahaan yang mendukung flexi hours & agile working sekalipun: “Working is not a PLACE, it’s a RESULT”. Silakan renungi dan bertukarpikiran. (jangan debat kusir lho ya :) ). Buat saya pribadi, I trully agree the statement. Utamanya karena pekerjaan saya yang mengharuskan pergi kesana-kemari, rasanya sudah ketinggalan jaman apabila performa seseorang diukur dari berapa sering dan berapa lama seseorang nongkrong di kantor. Bukan juga saya mengesampingkan disiplin. Intinya: not abusing the flexibility, be responsible, and be mature with our roles.

Konsep agile working, termasuk di dalamnya unsur flexible hours dan work from home memang tidak mudah dilaksanakan dan diterima oleh semua orang. It takes changes of paradigm, including those who implement it. Saya pernah menjalankan fasilitas working from home seminggu sekali. Siapa bilang tidak menimbulkan kesalahpahaman? Anak bingung karena ibunya ada di rumah, tapi tak bisa bermain dengannya. Ibu harus menyesuaikan kedisiplinan karena rasanya tak kuasa menolak ajakan main anak namun pekerjaan tetap harus diselesaikan dari rumah.

Namun janganlah khawatir, semua bisa disesuaikan. Pikirkan saja manfaatnya. DELIVERABLES-nya: bekerja 8 jam/hari. Deadline terpenuhi. Komunikasi dengan tim lancar. KPI terpenuhi. PLUS masih bisa: antar anak sekolah. Melihat performance anak di sekolah. Antar anak les. Belanja ke pasar. Banking time. Berenang. Jogging. Creambath. MEMINIMALISIR: kemacetan di jalan. Kesel di jalan. Tua di jalan. JANGAN SAMPAI: Intinya tak tercapai, tapi PLUS-nya yang tercapai :D :D:D Remember, don’t abuse the flexibility.

My Web, My Place …

*written by Vera Makki www.veramakki.com*

FacebookTwitterShare
Apr 6, 2012
admin
Comments Off

6th IPPG Workshop – Communications for CSR

Let’s join the workshop. Friday, 13 April 2012, 9.00AM- 17.00 PM.

Learn from the experts from various industry: CSR consultant, Oil & Gas Industry, Consumers Good, and Academic. Seats are limited. Daftar segera.

FacebookTwitterShare
Pages:«123»

@vera_makki

Current post:

Country Head Corporate Affairs, Citi Indonesia (Citibank, N.A., Indonesia)

Founder #TamanBacaAnakLebah and #BookSTech (Books, Storytelling, and Technology)

Member of: IABC (www.iabc.com) and PRSA (Public Relations Society of America)

Previous track (from recent to past):
- Deputy Director Corporate Communications & Public Affairs, Mercedes-Benz Indonesia
- Corporate Affairs Manager, Fonterra Brands Indonesia
- Communications Manager, Unilever Indonesia
- Public Affairs Manager, Indo Pacific PR
- Consultant, Ogilvy PR
- PR Officer, Hotel Mulia Senayan

Past part-time:
- Lecturer, Communications, International Program, University of Indonesia
- Radio Announcer, Ardan FM, Bandung, West Java
- Contributing writer, The Jakarta Post and various media

Highlights on Achievement & Recognition (recent to past):
- Named 50 Asia's Women Leaders from CMO Asia
- Shine on Awards from Good Housekeeping Indonesia
- The first Indonesian earned Accredited Business Communicator (ABC) from International Association of Business Communicators (IABC), San Francisco, US (www.iabc.com)

A glimpse of me:
#coffeelover #catlover . A wife, a mother of three wonderful kids. Enjoy driving a car, #travelling , #swimming , and #readingbooks . Love to #dance . Crazy about books and share them with the unfortunate children. #gogreen. #cintaIndonesia. Live life to the fullest!

Categories

Archives